Sunday, March 17, 2013

Present Perfect Tense

We use the present perfect to say that an action happened at an unspecified time before now. The exact time is not important. You can't use the present perfect with specific time expressions, such as :

- yesterday

- one year ago
- last week
- when I was a child
- when I lived in Japan
- at that moment
- that day
- one day

We can use the present perfect with unspecific expressions, such as: ever, never, once, many times, several times, before, so far, already, yet.


  • Rumus
  1. Bentuk Verbal
          [+] S + Have/has + V3 + Adj
          [-] S + Have/has + not + V3 + Adj
          [?] Have/has + S + V3 + Adj

     2. Bentuk Nominal


          [+] S + Have/has + been + Adj

          [-] S + Have/has + not + been + Adj
          [?] Have/has + S + been + Adj

  • Example
          ~ Verbal : 
             1. I think I have met him once before
             2. People have not traveled to Mars
             3. Have you read the book yet?
             4. We have eaten or lunch already
             5. I have not made an animation 3D for along time
             6. They have had three tests in the last week
             7. We have not visited him
             8. Rina has not finished his homework yet
             9. Has she heard the news?
            10. The concert has already started

         ~ Nominal :

            1. I have gained five pounds since I started my diet
            2. She has been in the Universal Studio since yesterday
            3. That castle has been visited by many tourists
            4. Has she been sick for two days?
            5. They have not been busy for one day
            6. He has not been here for 20 minutes.
            7. Has he been here for 20 minutes?
            8. He has not eaten meat since 1997
            9. She has been here since yesterday
           10. They had been at book store since morning

Saturday, January 19, 2013

Proposal Penelitian


Sebelum kita melakukan penelitian ilmiah, baik itu untuk kepentingan pribadi, perusahaan, maupun akademis, Langkah pertama harus kita tempuh adalah mengajukan Proposal Penelitian ke beberapa pihak yang bersangkutan. Biasanya proposal penelitian ini digunakan untuk kepentingan mencari dana (bagi peneliti individu), memperoleh ijin dari instansi yang akan diteliti, serta memperoleh ijin dari kampus untuk kepentingan penelitian akademisi.
Proposal penelitian harus bisa merangkum garis besar poin-poin yang akan menjadi obyek penelitian serta hipotesa sementara dari penelitian tersebut.
BERIKUT INI CONTOH PROPOSAL PENELITIAN ILMIAH
A. JUDUL PENELITIAN
Pengaruh Suku Bunga dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Pemberian Kredit Untuk Nasabah Bank Mandiri
B. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Hancurnya industri keuangan global yang dipicu oleh naiknya harga minyak serta pangan dan semakin diperparah dengan terjadinya krisis keungn di Amerika Serikat telah mengakibatkan melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
Dampak dari krisis di Amerika Serikat yang berdampak pada peningkatan inflasi di beberapa negara serta diikuti dengan kenaikan suku bunga dan nilai tukar mata uang setempat. Hal ini terjadi karena sistem keuangan suatu negara tidak bisa berdiri sendiri.Selallu terkait dengan sistem keuangan pada negara lain secara global. Hal ini lah yang mendorong penulis untuk melkukan penelitian mengenai fenomena yang sedang terjadi tersebut melalui penelitian ilmiah yang berjudul “Pengaruh Suku Bunga dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Pemberian Kredit Untuk Nasabah Bank Mandiri”
Pada tahun 2008, Bank Indonesia pernah melakukan penelitian terhadap dampak empiris inflasi terhadap pertumbuhan dan kualitas kredit perbankan di Indonesia. Hasil dafri penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan inflasi mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas kredit.
Perumusan Masalah
Dalam penelitian ilmiah ini, penulis akan mencoba merumuskan persoalan dalam bentuk beberapa pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap pemberian kredit di bank Mandiri?
2. Bagaimana pengaruh suku bunga di Indonesia, Amerika, Inggris, dan Jepang terhadap pemberian kredit di bank Mandiri?
Tujuan Penelitian
Penelitian ilmiah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap pemberian kredit di bank Mandiri?
2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh suku bunga di Indonesia, Amerika, Inggris, dan Jepang terhadap pemberian kredit di bank Mandiri?
Kegunaan Penelitian
Penelitian ilmiah yang akan dilakukan penulis ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.
1. Manfaat akademis
Penelitian yang sangat berhubungan dengan manajemen dana bank, manajemen perkreditan, serta keuangan internasional diharapkan dapat lebih dipahami oleh pihak yang berkepentingan
2. manfaat dalam implementasi
Penelitian ini difokuskan pada bank Mandiri sebagai objek penelitian sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan.
Batasan Masalah
Untuk menghindari melebarnya topik yang akan diteliti, maka penulis membatasi permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut :
1.   Penelitian hanya akan menggunakan aktiva pada bank Mandiri
2. Aktiva sutu bank terdiri dari banyak pos, dan penulis hanya membatasi untuk menggunakan pos-pos  yang sesuai dengan skala prioritas penggunaan dana, yaitu :
* kredit untuk nasabah; terdiri dari kredit yang diberikan
* investasi untuk pendapatan; terdiri dari penyertaan.
3. Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi penggunaan data suku bunga, inflasi, serta kurs Rupiah terhadap negara Amerika, Inggris, dan jepang
4. Alat bantu yang digunakan untuk menganalisa data statistik agar dapat diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menyajikan suatu informasi dalam penelitian ini menggunakan software SPSS
C. TINJAUAN PUSTAKA
Neraca Bank
Menurut Soedijono pada kuliah Institusi Depositori dan Pasar Modal, Neraca sebuah bank dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu aktiva dan pasiva. Selanjutnya pasive sebuah bank terdiri dari utang dan modal.
Inflasi
menurut www.Organisasi.org , inflasi adalah suatu keadaan dimana harga barang secara umum mengalami kenaikn dan berlangsung dalam waktu yang lama dan terus menerus
Suku Bunga
menurut John Maynard keynes, bahwa suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap uang.
D. PERUMUSAN HIPOTESA
Hipotesa yang akan dicoba untuk dirumuskan berdasarkan kerangka pemikiran diatas adalah :
* H01: Tidak ada pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap pemberian kredit untuk nasabah bank Mandiri
* H02: Tidak ada pengaruh suku bunga Indonesia , Amerika, Inggris, dan Jepang terhadap pemberian kredit untuk nasabah bank mandiri.
E. METODOLOGI PENELITIAN
Data Penelitian
1. Sumber data
data diperoleh dari Laporan tahunan Bank Indonesia dan Laporan keuangan Publikasi Triwulan Neraca PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk
2. jenis Data
a. ativa bank mandiri
aktiva bank mandiri yang terdiri dari :
kredit untuk nasabah, terdiri dari kredit yang diberikan
investasi untuk pendapatan, terdiri dari penyertaan.
b. kurs Rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY
c. Suku bunga inflasi di Indonesia, Amerika, Inggris, dan jepang
3. Tipe Data
data yang diteliti adalah data sekunder yang diterbitkan oleh bank Indonesia dalam bentuk buletin
Objek Penelitian
Objek penelitian adalah bank Mandiri
Periode Penelitian
data yang digunakan merupakan data triwulan dari triwulan IV 2000 sampai dengan triwulan II 2008
Alat Yang Digunakan
Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ilmiah ini adalah software SPSS
Model Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier dengan metode kuadrat terkecil
F. RENCANA BIAYA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian ilmiah untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana, maka semua biaya penelitian ini akan ditanggung oleh penulis
G. JADWAL PENELITIAN
Minggu I : Persiapan
Minggu II – IV : pengumpulan dan analisis data
Minggu V – IX : penyusuna laporan
Minggu X-XII : laporan akhir
Sumber: http://carapedia.com/Contoh_Proposal_Penelitian_Ilmiah_info155.html

Konvensi Naskah


Konvensi Naskah


Konvensi naskah adalah semua persyaratan formal yang sudah berdasarkan ketentuan ,aturan yang lazim dan sudah disepakati bersama dalam suatu penulisan agar tampak lebih bagus dengan segala persyaratan yang meliputi bagian – bagian pelengkap dan kebiasaan kebiasaan yang harus diikuti dalam dunia kepenulisan .
 
SYARAT FORMAL PENULISAN SEBUAH NASKAH

Sebuah karangan harus memenuhi tiga aspek utama persyaratan formal, yaitu : Bagian pelengkap pendahuluan , Isi karangan , Bagian pelengkap penutup . Selain itu , karangan memerlukan adanya pengorganisasian karangan

Adapun unsur-unsur dalam Penulisan Sebuah Karangan:

A. Bagian Pelengkap Pendahuluan


a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul)
b. Halaman Judul
c. Halaman Persembahan (kalau ada)
d. Halaman Pengesahan (kalau ada)
e. Kata Pengantar
f.  Daftar Isi
g. Daftar Gambar (kalau ada)
h. Daftar Tabel (kalau ada)

B. Bagian Isi Karangan

a. Pendahuluan
b. Tubuh Karangan
c. Kesimpulan

C. Bagian Pelengkap Penutup

a. Daftar Pustaka (Bibliografi)
b. Lampiran (Apendix)
c. Indeks
d. Riwayat Hidup Penulis

Dengan pemaparan intisari sebagai berikut : 

A. Bagian Pelengkap Pendahuluan

Bagian pelengkap pendahuluan adalah bagian yang bertugas sebagai bahan informasi bagi para pembaca dan sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu agar terlihat lebih menarik dan pada bagian ini tidak membahas sama sekali tentang isi dari karangan tersebut

a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul) dan Halaman Judul

Halaman judul pendahuluan hanya mencantumkan judul karangan atau judul buku yang ditulis dengan huruf kapital dan terletak di tengah halaman agak ke atas.Halaman ini hanya tercantum nama karangan, penjelasan adanya tugas, nama pengarang (penyusun), kelengkapan identitas pengarang (kelas, nomor pokok mahasiswa ), nama lembaga (jurusan, fakultas, unversitas), nama kota, dan tahun penulisan.
Untuk memberikan daya tarik pembaca, penyusunan judul perlu memperhatikan unsur-unsur sebagai berikut:

  • Judul menggambarkan keseluruhan isi karangan.
  • Judul harus menarik pembaca baik makna maupun penulisannya.
  • Sampul: nama karangan, penulis, dan penerbit.
  • Halaman judul: nama karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, kelengkapan identitas pengarang, nama unit studi, nama lembaga, nama kota, dan tahun penulisan (dalam pembuatan makalah atau skripsi).
  • Seluruh frasa ditulis pada posisi tengah secara simetri (untuk karangan formal), atau model lurus pada margin kiri (untuk karangan yang tidak terlalu formal).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan makalah atau skripsi pada halaman judul:
  • Judul diketik dengan huruf kapital
  • Penjelasan tentang tugas disusun dalam bentuk kalimat
  • Nama penulis ditulis dengan huruf kapital
  • Logo universitas untuk makalah, skripsi, tesis, dan disertasi, makalah ilmiah tidak diharuskan menggunakan logo.
  • Data institusi mahasiswa mencantumkan program studi, jurusan, fakultas, unversitas, nama kota, dan tahun ditulis dengan huruf kapital
Hal-hal yang harus dihindarkan dalam halaman judul karangan formal:
  • Komposisi tidak menarik.
  • Tidak estetik.
  • Hiasan gambar tidak relevan.
  • Variasi huruf jenis huruf.
  • Kata “ditulis (disusun) oleh.”
  • Kata “NIM/NRP.”
  • Hiasan, tanda-tanda, atau garis yang tidak berfungsi.
  • Kata-kata yang berisi slogan.
  • Ungkapan emosional.
  • Menuliskan kata-kata atau kalimat yang tidak berfungsi.
b. Halaman Persembahan

Bagian yang tidak terlalu penting dan jarang melebihi satu halaman, biasanya terdiri dari beberapa kata saja. Ditempatkan berhadapan dengan halaman belakang judul buku, atau berhadapan dengan halaman belakang cover buku, atau juga menyatu dengan halaman judul buku.

c. Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan digunakan sebagai pembuktian bahwa karya ilmiah yang telah ditanda-tangani oleh pembimbing, pembaca/penguji, dan ketua jurusan telah memenuhi persyaratan administratif sebagai karya ilmiah.
Judul skripsi seluruhnya ditulis dengan huruf kapital pada posisi tengah antara margin kiri dan kanan. Nama lengkap termasuk gelar akademis pembimbing materi/teknis, pembaca/penguji, dan ketua program jurusan ditulis secara benar dan disusun secara simetri kiri-kanan dan atas-bawah.Nama kota dan tanggal pengesahan ditulis di atas kata ketua jurusan.

Hal-hal yang harus dihindarkan:
  • Menggaris-bawahi nama dan kata-kata lainnya.
  • Menggunakan titik atau koma pada akhir nama.
  • Tulisan melampaui garis tepi.
  • Menulis nama tidak lengkap.
  • Menggunakan huruf yang tidak standar.
  • Tidak mencantumkan gelar akademis.
d. Kata Pengantar
 

Kata pengantar merupakan bagian karangan yang berisi penjelasan mengapa menulis sebuah karangan. Sifatnya formal dan ilmiah. Isi kata pengantar tidak menyajikan isi karangan, atau hal-hal lain yang tertulis dalam pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan. Sebaliknya, apa yang sudah tertulis dalam kata pengantar tidak ditulis ulang dalam isi karangan. Setiap karangan ilmiah harus menggunakan kata pengantar. Di dalamnya disajikan informasi sebagai berikut:
  • Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau laporan formal ilmiah).
  • Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau laporan formal ilmiah).
  • Penjelasan adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekolompok orang, atau organisasi/lembaga.
  • Ucapan terima kasih kepada seseorang, sekolompok orang, atau organisasi/lembaga yang membantu.
  • Penyebutan nama kota, tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis, tanpa dibubuhi tanda-tangan.
  • Harapan penulis atas karangan tersebut.
  • Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran.
Hal-hal yang harus dihindarkan:
  • Menguraikan isi karangan.
  • Mengungkapkan perasaan berlebihan.
  • Menyalahi kaidah bahasa.
  • Menunjukkan sikap kurang percaya diri.
  • Kurang meyakinkan.
  • Kata pengantar terlalu panjang.
  • Menulis kata pengantar semacam sambutan.
  • Kesalahan bahasa: ejaan, kalimat, paragraf, diksi, dan tanda baca tidak efektif.
e. Daftar Isi

Daftar isi adalah bagian pelengkap pendahuluan yang memuat garis besar isi karangan ilmiah secara lengkap dan menyeluruh, dari judul sampai dengan riwayat hidup penulis yang berfungsi untuk merujuk nomor halaman dan tersusun secara konsisten dengan baik. Konsistensi ini dipengaruhi oleh bentuk yang digunakan.

f. Daftar Gambar

Bila dalam buku itu terdapat gambar-gambar, maka setiap gambar yang tercantum dalam karangan harus tertulis didalam daftar gambar. Daftar gambar menginformasikan: judul gambar, dan nomor halaman.

g. Daftar Tabel
 
Bila dalam buku itu terdapat tabel-tabel, maka setiap tabel yang tertulis dalam karangan harus tercantum dalam daftar tabel. Daftar tabel ini menginformasikan: nama tabel dan nomor halaman.

B. Bagian Isi Karangan

Bagian isi karangan merupakan inti dari karangan atau secara singkat dapat dikatakan karangan atau buku itu sendiri.

a. Pendahuluan

Pendahuluan adalah bab I karangan. Pendahuluan bertujuan menarik perhatian pembaca, dengan menginfokan masalah apa yang akan dibahas dari bab awal hingga akhir. Pendahuluan terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan pembahasan, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode pembahasan.
Untuk menulis pendahuluan yang baik, penulis perlu memperhatikan pokok-pokok yang harus tertuang dalam masing-masing unsur pendahuluan sebagai berikut:
  1.  Latar belakang masalah
  2.  Tujuan penulisan berisi target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai
  3.  Ruang lingkup masalah berisi pembatasan masalah yang akan dibahas.
  4.  Landasan teori
  5.  Sumber data penulisan berisi data- data yang bersesuaian dengan pembahasan
  6.  Metode dan teknik penulisan berisi penjelasan metode yang digunakan dalam pembahasan dan teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data.
  7.  Sistematika penulisan berisi gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan.
b. Tubuh Karangan

Tubuh karangan atau bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian pembahasan masalah dan disinilah terletak segala masalah yang akan dibahas secara sistematis. Bagian ini menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara tuntas. Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut ini:
  1. Ketuntasan materi
    Materi yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer.
  2.  Kejelasan uraian/deskripsi
     yang terbagi tiga yaitu :
    • Kejelasan konsep
    • Kejelasan bahasa 
    • Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta 
Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah):
  1. Subjektivitas
  2. pembuktian pendapat tidak mencukupi
c. Kesimpulan

Kesimpulan merupakan bagian penutup dari isi karangan dan merupakan suatu intisari dari karangan mulai dari bab awal hingga akhir .Penulis dapat merumuskan kesimpulannya dengan dua cara:
  1. Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif, dapat dibuat ringkasan-ringkasan argumen yang penting yang sejalan dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
  2. Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu. 
C. Bagian Pelengkap Penutup

Bagian pelengkap penutup juga merupakan syarat-syarat formal bagi suatu karangan ilmiah.

a. Daftar pustaka (Bibliografi)

Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian dengan sebuah atau sebagian karangan. Setiap karangan ilmiah harus menggunakan daftar pustaka.

Unsur-unsur daftar pustaka meliputi:
  1. Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan menggunakan koma.
  2.  Tahun terbit.
  3.  Judul buku: penulisannya bercetak miring.
  4.  Data publikasi, meliputi tempat/kota terbit, dan penerbit..
  5.  Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilid, nomor, dan tahun terbit.
Keterangan:
  • Jika buku itu disusun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak perlu dibalik.
  •  Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk menggantikan nama pengarang.
  •  Jika buku itu merupakan editorial (bunga rampai), nama editor yang dipakai dan di belakangnya diberi keterangan ed. ‘editor’
  •  Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan.
  •  Daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama belakang pengarang.
b. Lampiran (Apendix)

Lampiran (apendix) merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya terkadang tumpang tindih dengan catatan kaki.Penyajian dalam bentuk lampiran agar tidak mengganggu pembahasan jika disertakan dalam uraian.

c. Indeks

Indeks adalah daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara alfabetis (urut abjad).

d. Riwayat Hidup Penulis

Buku, skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi menuntut daftar RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran kehidupan penulis atau pengarang.

Monday, December 3, 2012

Langkah-langkah Penulisan Karya Ilmiah

PERSIAPAN DALAM MENULIS KARYA ILMIAH

Tips persiapan adalah segenap trik dan kiat  yang perlu dipahami, diadakan dan dikondisikan untuk memperlancar terwujudnya sesuatu yang menjadi tujuan sebuah rencana kegiatan sebelum kegiatan berlangsung.
Tips persiapan dalam menulis karya ilmiah populer adalah trik dan kiat yang harus dipahami , diciptakan keberadaannya dan dikondisikan sedemikian rupa sehingga memperlancar terwujudnya sebuah karya tulis hingga tersaji pada halaman media masa yang selanjutnya sampai di meja pembaca.
Pertama Kumpulkan Informasi
Membaca  surat kabar, majalah ataupun buletin pendidikan utamanya, hendaknya menjadi kebutuhan bagi guru agar tidak ketinggalan informasi. Bagi guru calon penulis, membaca tidak sekedar mendapatkan informasi kemudian dibiarkan hilang begitu saja tanpa kesan. Akan tetapi informasi baru hendaknya diinventarisir dengan cara dicatat ataupun dikumpulkan guntingan-guntingan informasi surat kabar itu lengkap dengan tanggal pemuatannya. Perlakuan ini dimaksudkan sebagai proses pengumpulan dokumen informasi yang dapat digunakan sebagai modal pencarian tema dalam penulisan karya ilmiah populer Anda.
Pengumpulan informasi dapat diperoleh dari mana pun tergatung dengan media apa penulis itu bergelut. Koran, majalah, buletin, radio, TV, internet atau wawancara langsung dengan nara sumber adalah sumber informasi yang tak habis-habisnya digali. Informasi tentang pendidikan memang silih berganti datang bertubi setiap hari. Informasi itu terus berlari seiring dengan pergantian hari.
Bagi calon penulis dan penulis yang sudah terbiasa menulis, informasi baru merupakan  bahan tulisan yang sangat ditunggu-tunggu. Oleh karena itu informasi baru harus diinventarisir sehingga penulis dapat memiliki informasi yang segera dapat diangkat menjadi opini atau artikel.
Jangan lupa, informasi dari pakar dan media elektronik agar dicatat runtut sesuai urutan waktu yang disertai tanggal tayang atau tanggal acara itu berlangsung. Nama acara dicantumkan dalam catatan akan lebih lengkap dan lebih baik.
Mengapa harus mengumpulkan informasi baru ? Media masa hanya akan memuat tulisan yang mengandung hal baru baik informasinya, pandangan pencerahan, pendekatan, saran maupun solusinya. Topik yang dibahas pun sesuatu yang aktual, relevan dan menjadi persoalan di masyarakat. Pertimbangan inilah melandasi calon penulis hendaknya rajin mengumpulkan informasi yang baru.
Nah, apabila Anda menginginkan tulisannya diperhitungkan oleh penerbit , informasi  baru dalam tulisan Anda sangat diutamakan. Anda tidak akan menguasai informasi terbaru apabila  tidak mau rajin mengumpulkan informasi yang ada. Kasus ditolaknya tulisan tidak dimuat di media masa paling banyak disebabkan oleh hal  yang dibahas bukan hal baru
Kedua, Peka Melihat Keadaan
Melihat dapat diartikan memperhatikan. Peka melihat keadaan artinya mampu dan mau memperhatikan hal-hal kecil hingga besar keadaan lingkungan baik melalui sumber bacaan, kata nara sumber maupun secara  langsung lewat indera sendiri mengetahui kejadian di lingkungan sekitar.
Peka melihat keadaan merupakan sikap yang harus dimiliki oleh calon penulis ataupun penulis karya ilmiah yang sudah biasa menulis. Walaupun permasalahan yang dapat diangkat sebagai bahan tulisan itu berserakan  banyak sekali di sekitar kita akan tetapi apabila calon penulis  tidak peka melihatnya maka tulisan yang diharapkan itu pun tidak akan menjadi kenyataan.
Membaca berita dalam koran bagi calon penulis peka tentu tidak sekedar membaca kemudian hilang tanpa kesan. Bagi pembaca peka, isi berita itu dapat diangkat sebagai bahan tulisan yang segera dikaitkanhubungkan  dengan sumber pustaka dan secara jeli dianalisisnya  menjadi sebuah karya ilmiah yang pantas dipajang di media masa.
Oleh karena itu tangkaplah fenomena di sekitar Anda sebagai inspirasi bahan tulisan yang aktual. Fenomena yang ada di sekitar itu identik dengan kesempatan yang tak pernah datang dua kal
Ketiga, Buat Klipping Artikel Pendidikan
Bersamaan dengan melatih diri untuk peka menangkap keadaan sekitar sebaiknya Anda juga rajin untuk mengumpulkan / mengklipping tulisan orang lain yang bernuansa pendidikan. Ambillah artikel pendidikan  sekalipun dari bungkus tempe / bungkus kacang goreng ! Kumpulkan tulisan-tulisan itu hingga banyak maka  akan menjadi sumber referensi yang jelas dan akan menambah wawasan  Anda.
Setelah membaca kumpulan artikel yang ditulis banyak orang itu, Anda akan mendapatkan sesuatu yang bersinar dari artikel tersebut. Sinar yang menerangi pikiran dan hati Anda sehingga menunjukkan jalan lebar menuju kampung penulis cerdas. Sinar itu adalah : 1. motivasi menulis, 2. perbendaharaan bahasa media masa, 3. karakteristik penulis,4. urutan kronologis susunan tulisan, 5. referensi pengetahuan,6. mendapatkan idola model bentuk tulisan
Anda bisa meniru model tulisan orang lain, namun tak boleh menjadi plagiat yang merangkum tulisan-tulisan orang lain. Meniru model dapat diartikan meniru bentuk tulisan. Meniru urutan kronologi susunan tulisan dan meniru gaya tulisan orang lain agaknya tidak dilarang.
Dengan banyak membaca artikel orang lain Anda bisa meniru polanya walaupun makin lama Anda menemukan pola baru sebagai ciri khas bentuk karya tulisan Anda. Sebagai calon penulis, Anda berada selangkah lebih maju daripada teman yang mau menulis akan tetapi tidak bersedia mengklipping artikel orang lain. Percayalah, langkah ini  merupakan langkah jitu sebagai penulis karya ilmiah populer otodidak. Penulis buku ini membuktikan.

Keempat, Mencari Tahu Langsung kepada Penulis
Ada pepatah ” Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina ” mengajarkan kita agar  bersemangat, tidak mudah putus asa dalam meraih cita-cita. Carilah penulis yang tulisannya sering diterbitkan di media masa. Mintalah petunjuk kiat dan strategi menulis yang bisa lolos seleksi  redaktur media masa. Sering-seringlah berjumpa dengannya sehingga akrab sebagaimana teman karibnya.  Pepatah Jawa ” Cerak – cerak kebo gupak ”  yang berarti apabila berdekatan dengan teman maka akan terpengaruh sikap dan karakter teman akrab tersebut. Baik ataupun tidak baik sikap dan karakter teman itu akan kuat sekali mempengaruhi.
Apabila kita terpengaruh secara positif motivasi dalam menulis oleh teman maka sesungguhnya itulah yang kita cari. Pengaruh teman akrab lebih mempan daripada seribu nasihat nara sumber seminar. Percayalah
Berguru kepada teman akrab jauh lebih efektif daripada menimba pengetahuan dari Maha Guru yang jarang sekali bertemu. Tanamkan pradugamu yang baik bahwa penulis sejati akan selalu melayani teman akrab yang minta diajari  menulis seperti yang dia alami.
Penulis sejati, ikhlas hingga sanubari memberi ilmu  rahasia  menulis  yang dia miliki,  tanpa harus minta
ganti rugi. Penulis sejati memang kaya budi. Bertemanlah kepada penulis niscaya Anda akan  termotivasi untuk menulis.
Kelima, Memahami Karakteristik Media Masa
Karya tulis yang dimuat pada  sebuah koran belum tentu dapat dimuat di koran lain sekali pun mungkin dianggap berbobot. Mengapa ? Tolok ukur karya tulis yang bisa dimuat, setiap redaksi berbeda. Tingkat bobot tema, bahasa dan analisis setiap redaksi media masa terhadap sebuah karya tulis, berbeda.
Ada media masa yang tidak  berani memuat karya tulis dengan bahasa keras (menyinggung pemerintah) namun sebaliknya ada media masa yang senang memuat karya tulis bertaraf keras. Ada media masa yang tidak suka memuat karya tulis bernuansa agamis dan ada media masa yang senang dengan karya tulis yang bernuansa agamis. Demikian juga panjang pendek karya tulis yang bisa dimuat, setiap redaksi media masa mempunyai ketentuan yang berbeda. Dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan ketentuan masing-masing redaksi media masa.
Oleh karena itu, sebelum Anda banyak mengalami kegagalan, pahami dulu karakteristik setiap redaksi yang akan Anda kirimi karya tulis Anda. Setelah Anda memahami pada gilirannya tinggal mengasah tata bahasa, mengolah kata untuk menyesuaikan ketentuan media masa dalam bentuk karya yang siap saji di meja pembaca.
Keenam Catat Alamat Redaksi Media Masa
Redaksi yang akan Anda kirimi karya tulis Anda hendaknya tidak terpatri pada satu media masa. Karya tulis  Anda yang tidak lolos pada salah satu media masa dapat dikirimkan lagi ke media lain setelah ditunggu kurang lebih 10 hari sejak tulisan Anda sampai di meja redaksi media masa dan ternyata  tidak dimuat. Untuk itulah alamat redakasi beberapa media masa harus ada di tangan Anda.
Di bawah ini disajikan alamat redaksi beberapa media masa baik koran , majalah, buletin maupun jurnal pendidikan.
Ketujuh, Rajin Baca Referensi
Membaca buku referensi adalah wajib bagi guru calon penulis ataupun yang sudah menjadi penulis. Tanpa mau membaca buku referensi niscaya tak akan bertambah wawasan maupun pengetahuan yang dimiliki. Referensi merupakan pendukung dan penguat  pendapat  Anda  yang tertuang dalam karya tulis Anda. Anda tak bisa berpendapat seenaknya tanpa ada dukungan fakta dan referensi.
Perlu diketahui, karya tulis Anda dinilai lemah oleh redaktur media masa apabila tidak didukung referensi terbaru.  Dan itu indikasi karya tulis Anda tak akan lolos dari uji redaktur media masa. Ujung- ujungnya karya tulis Anda tak akan dimuat dan hanya akan  dibuang di bak sampah penerbit.
Lebih lanjut apabila karya tulis Anda dapat dimuat pada media  yang Anda kirimi, belum tentu mendapat nilai dari Tim Penilai Pengembangan Profesi Guru. Karya tulis tersebut selanjutnya disebut sebagai obrolan  penulis yang tidak memenuhi syarat sebagai karya tulis ilmiah baku.
Perlu dipahami karya tulis dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah yang memenuhi syarat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut ( Kastam Syamsi, 2006) , 1. Isi sajian berada pada kawasan pengetahuan keilmuan, 2. Penulisannya cermat, tepat, benar menggunakan sistematika umum dan jelas, 3. Tidak bersifat subjektif, tidak boleh emosional, mengungkapkan terkaan, prasangka, atau memuat pandangan-pandangan tanpa fakta dan rasional yang mantap dan 4. Didukung dan dikuatkan referensi yang jelas
Sebelum Anda menjadi penulis yang handal, langkah awal yang harus Anda lakukan adalah bersikap akrab dengan buku-buku referensi. Buku-buku itulah sebagai sumber pendorong motivasi, pengembang inspirasi dan pembela argumentasi.
Buku referensi merupakan gudang pengetahuan dan wawasan. Membaca buku referensi berarti membuka kunci gudang wawasan. Wawasan itu sangat diperlukan bagi guru calon penulis karya ilmiah populer ataupun yang sudah terbiasa menulis. Makin tinggi keinginan Anda menulis makin banyak wawasan yang perlu dimiliki.
Nah, jika Anda menginginkan banyak wawasan, maka harus banyak membaca buku referensi. Anda jangan terpaku hanya membaca satu buku referensi. Banyaknya buku referensi yang Anda baca berkorelasi positif terhadap keluasan wawasan yang Anda miliki. Keluasan wawasan Anda menentukan kualitas karya  tulis Anda. Kualitas karya tulis akan berdampak pada pemuatan dan pengakuan masyarakat. Pada gilirannya, kualitas karya tulis akan mempererat hubungan Anda dengan penerbit media masa. Keakraban inilah mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap kualitas nama Anda di media masa.
Oleh karenanya, Anda harus rajin membaca buku dari banyak buku referensi. Cara mendapatkan banyak buku referensi di antaranya dengan : 1. membeli buku-buku referensi di toko buku , 2. meminjam buku-buku referensi teman yang memilikinya, dan  3. membaca buku di perpustakaan.
Kedelapan, Consisten Mau Menulis
Konsisten mau menulis artinya taat atas ketekadan dirinya untuk menulis. Pendiriannya untuk menulis ajek, tidak berubah-ubah sekalipun 1,2,3 bahkan sampai 6 kali karya tulisnya tidak dimuat di media masa.
Konsisten merupakan landasan kekuatan pertahanan motivasi menulis dalam menghadapi rongrongan yang berasal dari kebosanan, kemalasan dan makin menggejalanya erosi motivasi.
Bersamaan menjaga kelestarian motivasi, konsistensi juga harus  dipertahankan. Kedua unsur inilah pada hakekatnya merupakan roh kegiatan penulisan karya ilmiah. Kedua unsur inilah merupakan pendorong terwujudnya karya tulis ilmiah. Guru-guru yang belum mau memulai menulis karya ilmiah itu pada umumnya lebih disebabkan oleh rendahnya motivasi dan konsisten menulis.

Kegagalan memang menyakitkan. Beberapa kali karya tulis yang dikirimkan ke media masa tidak diterbitkan  bisa jadi membuat si penulis patah semangat, putus asa dan stress hingga berhenti tidak mau menulis lagi. Patah semangat sendirian masih dirasakan belum memuaskan.  Ia segera berkoar kemana-mana  dengan kejengkelannya mengatakan,” Membuat karya tulis itu sulit. Karya tulis itu melelahkan. Media masa tidak adil. Media masa itu tidak fair ,” dan lain-lain. Semua perkataannya bernada kecewa dan meluapkan isi hatinya dengan mengumpat kesulitan karya tulis dan ketidakadilan redaktur media masa. Sikap seperti itulah yang disebut tidak konsisten.
Apabila Anda termasuk yang demikian , lekaslah mawas diri ! Sikap yang seperti itu bukan sifat penulis yang cerdas. Bangunlah semangat yang baru untuk membentuk artikel yang bisa memenuhi selera setiap penerbit sehingga nama Anda terpampang di halaman media masa. Cobalah,  artikel-artikel Anda yang tidak lolos uji redaktur suatu media masa agar diperbaiki untuk dikirimkan lagi ke media masa yang lain dengan memperhatikan berbagai komponen yang mendukungnya.
Karya tulis ilmiah sebagian besar merupakan publikasi hasil peneli- tian. Dengan demikian format yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini ditentukan oleh isi penelitian yang menggambarkan metode atau sistematika penelitian. Metode penelitian secara garis besar dapat dibagi dalam empat macam.yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.
Karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian inid apat dibedakan berdasarkan sasaran yang dituju oleh penulis. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan. objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang lebih cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya. Dari berbagai macam bentuk karya tulis ilmiah, karya tulis ilmiah memiliki persyaratan khusus. Persyaratan karya tulis ilmiah adalah: Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik. Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.
Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural. Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan. Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis 
Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif. Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menulis karya ilmiah memer- lukan persiapan yang dapat dibantu dengan menyusun kerangka tulisan. Di samping itu, karya tulis ilmiah harus menaati format yang berlaku.

Setelah kerangka dikembangkan menjadi beberapa paragraf dengan memperhatikan beberapa hal dalam pengembangannya, kegiatan berikutnya adalah penyuntingan. Penyuntingan ini dapat dilakukan oleh penulis itu sendiri, dapat juga dengan bantuan orang lain.
Proses penyuntingan ini meliputi beberapa unsur, yaitu:
(a) teknis penulisan (sistematika, ejaan, dan tanda baca),
(b) kalimat,
(c) paragraf,
(d) bahasa, dan
(e) isi.
Setelah melalui proses penyuntingan ini, penulis mulai merevisi karya tulisnya. Pada akhirnya, draf final karya tulis ilmiah tersebut dapat disusun dan dipublikasikan.

EVALUASI



Ada lima kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap bagian dari menulis. Kriteria ini Focus, Pembangunan, Organisasi, Gaya, dan Konvensi.

Fokus.
Apa yang Anda menulis tentang? Apa klaim atau tesis Anda membela? Kriteria ini adalah yang luas, berkaitan dengan konteks, tujuan, dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah topik Anda sesuai untuk tugas? Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena pada garis singgung tidak membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau terlalu banyak? Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya mungkin terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.

Pembangunan.
Pembangunan berkaitan dengan rincian dan bukti. Apakah Anda menyediakan cukup bahan pendukung untuk memenuhi harapan pembaca Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya, biasanya mencakup banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang relevan beasiswa. Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian tentang, komposisi penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang seniman yang melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung pada penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga senior.

Organisasi.
Organisasi, sering disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan tata letak kertas. Secara tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan pengenalan, dan. Paragraf terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik (kesatuan), dan transisi di antara kalimat dan paragraf yang halus dan logis. Sebuah rambles kertas kurang terorganisir, melayang di antara topik yang tidak berhubungan dengan cara serampangan dan membingungkan.

Gaya.
Gaya secara tradisional berkaitan dengan kejelasan, keanggunan presisi, dan. Sebuah stylist yang efektif tidak hanya mampu menulis dengan jelas untuk penonton, tetapi juga bisa menyenangkan mereka dengan bahasa menggugah, metafora, irama, atau kiasan. Penata Efektif bersusah payah tidak hanya untuk membuat titik, namun untuk membuatnya dengan baik.

Konvensi.
Kriteria ini meliputi tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-isu lain yang ditentukan oleh konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa berjuang dengan konvensi, pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan koma dalam sebuah kalimat biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang berharga untuk menulis di tempat pertama. Namun demikian, kesalahan yang berlebihan dapat membuat bahkan seorang penulis brilian tampak ceroboh atau bodoh, kualitas yang jarang akan terkesan pembaca seseorang.
Sumber: http://tugas27.wordpress.com/2012/03/26/persiapan-dalam-menulis-karya-ilmiah/
             http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/persyaratan-karya-tulis-ilmiah.html/
             
             http://jumaristoho.wordpress.com/2012/12/05/langkah-langkah-penulisan-ilmiah/